Demo Blog
Tampilkan postingan dengan label MUHASABAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUHASABAH. Tampilkan semua postingan

WASPADA KRISTENISASI DI MUSHALA

by Tentang blog on Nov.22, 2009, under ,



sabili.co.id

Seperti biasanya, menjelang Dzuhur, Sumaryono, aktivis Muhammadiyah di Kelurahan Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, pergi ke mushalla untuk shalat berjamaah. Yono datang lebih awal karena bertugas mengumandangkan adzan tepat waktu di mushalla yang hanya 500 meter dari rumahnya. Setiba di mushalla yang lokasinya di belakang Stasiun Kereta Api Pondok Kopi ini, Yono melihat buku saku bersampul kuning tergeletak di bawah pintu.

Awalnya, ia mengira buku berjudul “Jalan Tauhid Lurus ke Surga” itu adalah bacaan islami, karena banyak mengutip ayat-ayat al-Qur'an. Tapi setelah meneliti lebih seksama, ternyata isinya menyudutkan Islam, Allah dan Nabi Muhammad saw.

“Ini pasti buku Kristenisasi,” batin Yono. Maka, tanpa pikir panjang, ia mencari orang yang memasukkan buku ini ke mushalla. Di luar hanya ada anak-anak kecil yang memegang selebaran tentang kiamat.

Selebaran ini juga misterius, karena tidak mencantumkan nama dan alamat penerbit. Isinya juga banyak mengutip al-Qur'an dan hadits, tapi menyanjung Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Maka, Yono menyimpulkan, ”Ini juga Kristenisasi.”

Menurut anak-anak yang sedang main di halaman mushalla itu, buku dan selebaran ditaruh orang yang tak mereka kenal. Anehnya, orang itu memakai baju koko dan peci.

Buku yang berjudul “Jalan Tauhid Lurus ke Surga” ini berisi ajakan untuk beribadah menyembah Yesus Kristus. Ini terlihat pada bagian yang mengajak pembaca untuk menyeleksi para nabi, dimulai dari Ibrahim, Musa, Yesus, sampai Muhammad saw.

Ia menulis, “Sebelum mengikuti satu tokoh, seharusnya dikenali lebih dulu watak tokoh itu, apalagi jika hendak menyembah tokoh tersebut.” (hlm 15).

Ajakan yang sarat kemusyrikan ini bertolak belakang dengan spirit judul yang menawarkan jalan tauhid yakni, beribadah hanya kepada Allah SWT. Memilih nabi manapun sebagai tokoh untuk dijadikan sebagai Tuhan adalah langkah yang salah dalam beragama. Sebab para nabi tak satupun yang memproklamirkan diri sebagai Tuhan. Semua nabi mengajak manusia beribadah dan menyembah pada satu-satunya Tuhan yang haq yaitu Allah SWT.

Nabi Ibrahim mengajak umatnya menyembah Allah yang Maha Menciptakan, Maha Memberi hidayah, Maha Memberi rezeki, Maha mengampuni, Maha menyembuhkan, menghidupkan dan mematikan (QS az-Zukhruf: 27-28, asy-Syu’ara: 78-82). Nabi Musa pun bertauhid pada Allah yang menciptakan bumi, langit dan seluruh isinya (QS asy-Syu’ara: 24, al-A’raf: 121-122). Bandingkan dengan Alkitab (Bibel) tentang ajaran tauhid Nabi Musa (Ulangan 4:35, 4:39, 6:4, dan 32:39).

Nabi Isa (Yesus) juga mengajak umatnya untuk bertauhid menyembah Allah tanpa mempersekutukan dengan sesuatu apapun. Dengan keras beliau menyatakan kafir bagi orang yang menjadikan dirinya sebagai Tuhan. Semua orang yang mempersekutukan Allah itu haram masuk surga dan akan dimasukkan di neraka (QS al- Ma’idah: 72-73).

Jika berpikir objektif, semestinya penulis buku pemurtadan ini bisa menangkap ajaran tauhid Yesus dalam Bibel. Secara tegas Yesus mengajarkan kepada muridnya bahwa hukum yang paling utama adalah mengesakan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang benar, dan mengakui Yesus bukan sebagai Tuhan tapi utusan Tuhan (Markus 12: 29, Yohanes 17: 3).

Muhammad saw sebagai nabi pamungkas juga mengajarkan tauhid (QS Muhammad 19, as-Syuuraa: 11, al-An’aam: 163, al-Mukminun: 91, an-Nahl: 51, dan lainnya). Jadi, betapa pun hebatnya sang tokoh, tapi ia tidak boleh dijadikan sebagai Tuhan, karena sampai kapan pun tokoh itu adalah makhluk (ciptaan) Tuhan. Maka kekaguman pada seorang tokoh hendaklah dialamatkan pada Tuhan yang memberikan kehebatan (mukjizat) pada tokoh itu.

Mungkin saja, penginjil penulis brosur ini masih rabun imannya, sehingga tidak bisa membedakan antara manusia dengan Allah. Seyogianya ia menelaah buku “Perbedaan Allah dan Tuhan Rekayasa dalam Tinjauan Al-Qur'an.” Dalam buku ini, penulisnya, Muhammad Thalib, menjelaskan 20 karakteristik yang membedakan Allah SWT dengan Tuhan rekayasa atau ciptaan manusia.

Tapi penulis buku kristenisasi ini cukup licik dalam mengelabui pembaca. Agar tidak dituding Kristenisasi, ia tidak mau mengaku sebagai Kristen, melainkan seorang “Ahlul Injil” (penganut Injil). Injil yang dimaksud juga bukan kitab Injil, karena Yesus tidak membawa kitab dan tidak menerima wahyu (firman) Tuhan, karena Yesus itu adalah wujud dari firman Tuhan.

Menurutnya, Injil hanyalah berita suka cita yang disampaikan oleh Yesus (hlm 18).

Tipuan ini sebenarnya menipu diri sendiri, karena pada beberapa bagian ia tidak menutupi iman kekristenannya. Misalnya, ketika mengajak pembaca untuk mengakui doktrin Kristen tentang inkarnasi Tuhan menjadi Yesus:

“Janji setia Ahlul Injil berbunyi: ‘Saya menyembah Tuhan yang menciptakan diriku yakni, Pemilik surga.... yang tampil dalam wujud manusia Yesus Kristus. Amin” (hlm 20).

Menyatakan diri sebagai Ahlul Injil yang berbeda dengan Kristen karena berpedoman pada Injil Yesus, bukan Injil dalam Bibel, adalah kebohongan yang tidak lucu. Karena pada halaman terakhir, ia menyebutkan 7 sikap Ahlul Injil yang semua didasarkan pada Injil Matius, Markus, dan Yohanes. Lantas, apa bedanya Ahlul Injil dengan Kristen? Sami mawon, dong!

Keyakinan bahwa Yesus tidak menerima wahyu (firman) dari Tuhan, semakin membuktikan bahwa misionaris penulis buku saku ini hanyalah teolog abangan yang tidak memahami kitab sucinya sendiri. Apalagi terhadap kitab suci agama lain. Pasalnya, pernyataan misionaris ini dibantah oleh Yesus dalam Bibel: “Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepadaku telah kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya,” (Yohanes 17:8).

Jika Yesus diyakini tidak pernah menerima firman Tuhan karena Yesus adalah wujud inkarnasi firman Tuhan, apakah sabda Yesus dalam Injil Yohanes tersebut harus digadaikan?

Aneh memang. (TIM FAKTA)
»»  READMORE...
0 komentar more...

Hari raya yang selama-lamanya

by Tentang blog on Nov.22, 2009, under ,


Pada malam hari raya idul fitri banyak rumah-rumah yang penuh dengan makanan,
anak-anak memakai baju baru, kecuali seorang anak yang ayahnya sedang keluar di jalan Allah.

Anak itu berkata kepada ibunya, wahai ibu dimana ayah, kenapa tidak ada baju baru, kenapa tidak ada makanan. Mendengar pertanyaan anaknya, sang ibu kemudian sholat 2 rakaat, tapi bukan untuk meminta makanan ataupun baju baru, tapi meminta kepada

Allah jawaban yang tepat untuk anaknya. Selesai sholat dan berdoa anaknya dipanggil.
Wahai anakku ketahuilah hari ini teman2mu merayakan hari raya mungkin 2 atau 3 hari saja tapi ayahmu sedang mencari hari raya yang selama-lamanya.
Wahai anakku ketahuilah makanan yang dimakan teman2mu mungkin 2 atau 3 hari akan habis atau akan basi tapi ayahmu sedang mencari makanan yang tidak pernah habis dan tidak pernah basi selama-lamanya.

Wahai anakku ketahuilah baju-baju baru yang teman2mu kenakan mungkin 3 atau 4 bulan akan lusuh tetapi ayahmu sedang mencari baju yang tidak pernah lusuh selama-lamanya.
Sang anak bertanya ” dimanakah itu ibu?”, sang ibu menjawab di surgaNya Allah SWT.

Maka sang anak berlari keluar rumah mengatakan pada teman2nya, wahai teman2 ayahku punya hari raya yang selama-lamanya, punya makanan yang tidak akan pernah basi atau habis, punya baju yang tidak akan pernah lusuh.
Maka teman2nya bertanya “dimana itu?” jawabnya di surga Allah SWT.

Maka teman2nya pulang kepada ayah-ayahnya dan berkata “ayah kami tidak mau hari raya 2 atau 3 hari tapi selama-lamanya, kami tidak mau makanan yang cepat basi tapi yang tidak pernah basi, kami mau baju yang tidak pernah usang?”

Ayah mereka bertanya “dari mana ini kalian dapat seperti ini?” kata mereka itu anak yang ayahnya sedang keluar di jalan Allah. Akhirnya satu kampung keluar di jalan Allah. (true story from ustadz adrian)

sumber : rkn2003.wordpress.com
»»  READMORE...
0 komentar more...

syair tentang Zuhud

by Tentang blog on Nov.22, 2009, under



Aku tahu, rezekiku….
Tak mungkin diambil orang lain
Karenanya, hatiku tenang

Aku tahu, amal-amalku…
Tak mungkin dilakukan orang lain
Maka aku akan sibukkan diriku untuk beramal

Aku tahu, Allah selalu melihatku
Karenanya, aku malu bila Allah..
Mendapatiku melakukan maksiat

Aku tahu, kematianku menantiku
Maka aku persiapkan bekal untuk..
berjumpa dengan Rabb-ku…

(Hasan Al Basri)
»»  READMORE...
0 komentar more...

PERBEDAAN PENDAPAT, PERBEDAAN PENAFSIRAN, BEDA CARA MENGAMALKAN SYARI’ATNYA,

by Tentang blog on Nov.22, 2009, under , ,



DI DALAM AGAMA ISLAM TERDAPAT:
PERBEDAAN PENDAPAT,
PERBEDAAN PENAFSIRAN,
BEDA CARA MENGAMALKAN SYARI’ATNYA,

Perhatian
Artikel ini tidak untuk diperdebatkan. Apabila anda berbeda pendapat silahkan
anda membuat artikel sendiri, berdasarkan dalil-dalil yang anda yaqini
kebenarannya. Niat saya hanya menyampaikan satu ayat dua ayat agar umat Islam
yang belum mengetahui, supaya mengetahui beberapa ayat-ayat Al Qur’an yang
terkandung didalam artikel ini, bagi yang sudah mengetahui ya untuk mengingat
kembali, setelah mengetahui mudah-mudahan bisa menambah iman dan takwa bagi
mereka yang ikhlas dan mau mengamalkannya, didalam kehidupannya sehari-hari..

A’udzu billahis sami’il ‘aliimi minasy syaithaanir rajiim.
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudara, dan Adik-adikku yang saya hormati, yang
saya cintai dan insya Allah dirahmati, diberi petunjuk dan hidayah dan
dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT).

APABILA ANDA BEDA PENDAPAT,
KEMBALIKAN KEPADA AL QUR’AN DAN HADITS.

Pada kesempatan ini saya akan mengulas tentang perbedaan pendapat, perbedaan
penafsiran, perbedaan pengertian dan perbedaan cara mengamalkan syari’at agama
Islam dan Fiqh, didalam kehidupan masusia sehari-hari.

SYARI’AT : Terdiri dari Al Qur’an dan Hadis
FIQH : Terdiri dari Ijmak dan Qiyas

FIQIH : Taufiqy – Ijtihad

SYARI’AT
Apakah Syari’at itu? Syari’at menurut bahasa ialah hukum ibadah. Syari’at
sendiri maknanya adalah hukum-hukum ibadah Agama Islam yang digali dari Al
Qur’an, sesuai dengan yang difahami oleh Rasulullah s.a.w. melalui
Hadits-hadits yang Shahih.

F I Q H
Apakah Fiqh itu? Fiqh menurut bahasa adalah hukum ibadah. Fiqh ialah kumpulan
hukum-hukum ibadah Agama Islam yang digali dari hasil interprestasi olah
pikir, hasil pemikiran, hasil pemahaman manusia, didalam memahami hukum-hukum
Agama Islam.

Fiqh, terdiri dari Ijmak dan Qiyas. Figh Taufiqy dari hasil Ijtihad.

Namun Hukum Syari’at dan Hukum Fiqh terdapat perbedaan menyolok.

Di dalam satu agama Islam terdapat banyak sekali kelompok-kelompok yang berbeda
pendapat, berbeda cara penafsiran makna dan arti yang terkandung didalam
ayat-ayat Al Qur’an, berbeda cara mengamalkan hukum-hukum yang ada didalam Al
Qur’an dan Hadits yang shahih. Berbeda cara mengamalkan syari’at berdasarkan
Al Qur’an dan Hadits beda dengan cara mengamalkan Fiqh, maka terjadilah
Mahzab-mahzab, kelompok-kelompok, tarekat-tarekat dan lain sebagainya.

Sikap kita didalam menyikapi perbedaan pendapat, perbedaan cara mengamalkan
syariat agama Islam hendaklah kita berpegang teguh kepada perintah Allah SWT
yang tercatat di dalam Al Qur’an sebagai berikut:

1-BEDA PENDAPAT, BEDA CARA MENGAMALKAN SYARI’AT AGAMA ISLAM.

1A-Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya.

Al Qur’an, Surat An Nisaa’, surat ke 4, ayat 59 sbb:

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan
ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya),
jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Siapakah Ulil Amri itu? Berdasarkan Qs.5: 55 sbb:

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang
beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk
(kepada Allah). Al Qur’an, Surat Al Maa-idah, surat ke 5 ayat 55..

1B-"Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang agama Allah?”

Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan
kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati. Qs.Al Baqarah (surat ke 2)
ayat 139

Al Qur’an, Surat Al Baqarah, surat ke 2 ayat 141
“Baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu
tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.”
Qs.2:141

Al Qur’an, Surat Asy Syura, surat ke 42, ayat 15
“Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu
amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan
antara kita dan kepada-Nya lah kembali (kita)" Qs. Asy Syura (42):15

Al Qur’an, Surat Al Jaatsiyah, surat ke 45, ayat 15
Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka itu adalah untuk dirinya
sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya
sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. Qs. Al Jaatsiyah (surat
ke 45) ayat 15

C-Beda pendapat didalam majlis, Qs. 58: 11 sbb:
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah
dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan.” Qs.58:11

2-CARA MENYIKAPI TENTANG PERBEDAAN PENDAPAT:
KITA HARUS BERLAPANG DADA DAN HARUS INTROSPEKSI DIRI KITA SENDIRI, SUDAH
BENARKAH AMALAN SAYA DIMATA ALLAH?

(2A)- Jangan mengolok-olok orang, menganggap diri kita paling benar dan
menganggap orang lain salah, belum tentu yang anda olok-olok itu lebih buruk
dari anda, bahkan dia lebih baik dari anda dimata Allah, kebenaran itu ditangan
Tuhanmu.

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain
(karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang
mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain
(karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari
wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan
janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk
panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak
bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. Qs.Al Hujuraat, surat ke
49 ayat 11

(2B)-AGAMA ISLAM ASALNYA HANYA SATU.
Agama Islam itu asalnya hanya satu, pengikut-pengikut Rasulullah s.a.w. itulah
yang memecah belah agama, sehingga muncul bermacam-macam mahzab, muncul
berbagai aliran dan muncul kelompok-kelompok, masing-masing mahzab,
masing-masing aliran, masing-masing kelompok, membangga-banggakan dirinya,
masing-masing menganggap hanya mahzabnya, hanya alirannya, hanya kelompoknya
yang paling benar. Maka 1400 tahuN yang lalu Allah SWT mengeluarkan peringatan
kepada hambanya sbb:

AGAMA ISLAM ASALNYA HANYA SATU.
Al Qur’an, Surat Al Anbyaa’ (surat ke 21) ayat 92 sbb:
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan
Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.

Al Qur’an, Surat Al Mu’minuun, surat ke 23, ayat 52 sbb:
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan
Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.

MEMECAH BELAH AGAMA ISLAM DIANGGAP SESAT OLEH ALLAH
Al Qur’an, Surat Al Mu’minuun, surat ke 23 ayat 53,54 sbb

Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah
belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa
yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam
kesesatannya sampai suatu waktu. Qs.Al Mu’minuun (23): 52,53,54

MEMECAH BELAH AGAMA ISLAM DIANGGAP MUSYRIK :
Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu
orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa
golongan.. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan
mereka.

Al Qur’an, Surat Ar Ruum, surat ke 30 ayat 30,31,32 sbb:
Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu
orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa
golongan.. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan
mereka.

KESIMPULANNYA:
Biarlah orang mengatakan apa terhadap kita, orang sinis terhadap kita, mereka
menjauhi kita, yang terpenting kita mengamalkan syari’at-syari’at atau
hukum-hukum Agama Islam yang bersumber dan digali dari Al Qur’an dan Hadits
Shahih. Cara mengamalkannya kita mengikuti petunjuk dan tehnis pelaksanaannya
dari Nabi Muhammad s.a.w. yang tercatat didalam Hadits Shahih.

Tidak usah berdebat tentang Ayat-ayat Al Qur’an, malah kita nanti dianggap
kafir oleh Allah SWT seperti dalam firman-Nya.

Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang
kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota
ke kota yang lain memperdayakan kamu. Qs.Al Mu’min, Surat ke 40 ayat 4

APABILA DIAJAK BERDEBAT, MAKA KATAKANLAH:
“Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu
amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan
antara kita dan kepada-Nya lah kembali (kita)" Qs. Asy Syura (42):15

Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka itu adalah untuk dirinya
sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya
sendiri

Al Qur’an, Surat Al Jaatsiyah, surat ke 45, ayat 15

Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka itu adalah untuk dirinya
sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya
sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. Qs. Al Jaatsiyah (surat
ke 45) ayat 15

WASIAT PENULIS:
1-Janganlah anda meremehkan penganut mahzab, kelompok, dan golongan-golongan
lain, selain dari golongannya.

2-Jangan anda menganggap:” Mahzabku, kelompokku, golonganku paling benar”.

3-Janganlah anda mengolok-olok mahzab lain, kelompok-kelompok lain, selain
dari mahzab atau kelompok anda
..
4-Janganlah anda menganggap: “Selain mahzabku, kelompokku aliranku adalah
sesat”
..
5-Janganlah anda membangga-banggakan kelompokm anda sendiri.

5-Biarlah Allah SWT yng menilainya sendiri, karena Allah Maha Benar, Maha
Mengetahui. Karena Allah SWT mengetahui siapa yang mengikuti jalan yang lurus,
dan siapa yang mengikuti jalan yang sesat.

Demikian yang bisa saya sampaikan, saya hanya sebatas menyampaikan beberapa
ayat Al Qur’an yang baru nsaya ketahui. Semoga bermanfaat bagi yang membaca,
menghayati maknanya dan yang mengamalkannya didalam kehidupan sehari-hari.
Billahi taufik wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sukarman.

Sumber bacaan:
“Al Qur’an dan Terjemahnya” Cetakan Mujamma’ Al Malik Fahd Li Thiba’ At Al
Mush-haf Asy Syarif” , Medinah Munawarah PO.Box.6262 Kerajaan Saudi Arabia.

Bagi mereka yang menganggap mentafsirkan, menterjemahkan Al Qur’an secara
sembarangan, dan hanya dengan logika, silahkan anda complain ke alamat
tersebut diatas.
»»  READMORE...
0 komentar more...

CIRI-CIRI ORANG YANG IKHLAS

by Tentang blog on Nov.22, 2009, under




dakwatuna.com – Jika ada kader dakwah merasakan kekeringan ruhiyah, kegersangan ukhuwah, kekerasan hati, hasad, perselisihan, friksi, dan perbedaan pendapat yang mengarah ke permusuhan, berarti ada masalah besar dalam tubuh mereka. Dan itu tidak boleh dibiarkan. Butuh solusi tepat dan segera.

Jika merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah, kita akan menemukan pangkal masalahnya, yaitu hati yang rusak karena kecenderungan pada syahwat. “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46). Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik; dan jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpul daging itu adalah hati.” (Muttafaqun ‘alaihi). Imam Al-Ghazali pernah ditanya, “Apa mungkin para ulama (para dai) saling berselisih?” Ia menjawab,” Mereka akan berselisih jika masuk pada kepentingan dunia.”

Karena itu, pengobatan hati harus lebih diprioritaskan dari pengobatan fisik. Hati adalah pangkal segala kebaikan dan keburukan. Dan obat hati yang paling mujarab hanya ada dalam satu kata ini: ikhlas.

Kedudukan Ikhlas

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”

Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah.” Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah swt. di surat Al-Kahfi ayat 110.

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”

Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”

Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

Karena itu, bagi seorang dai makna ikhlas adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridha-Nya, dan kebaikan pahala-Nya tanpa melihat pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, sebutan, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian si dai menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara dunia dan kepentingan. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” Dai yang berkarakter seperti itulah yang punya semboyan ‘Allahu Ghayaatunaa‘, Allah tujuan kami, dalam segala aktivitas mengisi hidupnya.

Buruknya Riya

Makna riya adalah seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik. Disebutkan dalam surat An-Nisaa ayat 142, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Riya juga merupakan salah satu cabang dari kemusyrikan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?’” (HR Ahmad).

Dan orang yang berbuat riya pasti mendapat hukuman dari Allah swt. Orang-orang yang telah melakukan amal-amal terbaik, apakah itu mujahid, ustadz, dan orang yang senantiasa berinfak, semuanya diseret ke neraka karena amal mereka tidak ikhlas kepada Allah. Kata Rasulullah saw., “Siapa yang menuntut ilmu, dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wangi-wangi surga di hari akhir.” (HR Abu Dawud)

Ciri Orang Yang Ikhlas

Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:

1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”

Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.

Al-Qur’an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.”

2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)

Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.

3. Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang dai yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.

Para dai yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun amal jama’i dalam dakwahnya. Senantiasa menghidupkan syuro dan mengokohkan perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesarkan diri atau lembaganya semata.

sumber : DAKWATUNA


JIKA ADA KESALAHAN MOHON DI KOREKSIJAUHKAN PERDEBATAN, REKATKAN UKUWAH ISLAMIYAH.
»»  READMORE...
0 komentar more...
Diberdayakan oleh Blogger.

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!