Demo Blog

Abdurrahman As Sudais

by Tentang blog on Nov.22, 2009, under


-
Name of Surah

1
Al-Fatihah ( The Opening )

2
Al-Baqarah ( The Cow )

3
Al-Imran ( The Family of Imran )

4
An-Nisa ( The Women )

5
Al-Maidah ( The Table spread with Food )

6
Al-An'am ( The Cattle )

7
Al-A'raf (The Heights )

8
Al-Anfal ( The Spoils of War )

9
At-Taubah ( The Repentance )

10
Yunus ( Jonah )

11
Hud ( Hud )

12
Yusuf (Joseph )

13
Ar-Ra'd ( The Thunder )

14
Ibrahim ( Abraham )

15
Al-Hijr ( The Rocky Tract )

16
An-Nahl ( The Bees )

17
Al-Isra ( The Night Journey )

18
Al-Kahf ( The Cave )

19
Maryam ( Mary )

20
Toha

21
Al-Anbiya ( The Prophets )

22
Al-Hajj ( The Pilgrimage )

23
Al-Mu'minun ( The Believers )

24
An-Noor ( The Light )

25
Al-Furqan (The Criterion )

26
Ash-Shu'ara ( The Poets )

27
An-Naml (The Ants )

28
Al-Qasas ( The Stories )

29
Al-Ankabut ( The Spider )

30
Ar-Room ( The Romans )

31
Luqman

32
As-Sajdah ( The Prostration )

33
Al-Ahzab ( The Combined Forces )

34
Saba ( Sheba )

35
Fatir ( The Orignator )

36
Yaa-sin

37
As-Shoffat ( Those Ranges in Ranks )

38
Shod ( The Letter Sad )

39
Az-Zumar ( The Groups )

40
Ghafir ( The Forgiver God )

41
Fusshilat ( Explained in Detail )

42
Ash-Shura (Consultation )

43
Az-Zukhruf ( The Gold Adornment )

44
Ad-Dukhan ( The Smoke )

45
Al-Jathiya ( Crouching )

46
Al-Ahqaf ( The Curved Sand-hills )

47
Muhammad (Prophet Muhammad p.b.u.h)

48
Al-Fath ( The Victory )

49
Al-Hujurat ( The Dwellings )

50
Qaf ( The Letter Qaf )

51
Adh-Dzariyat ( The Wind that Scatter )

52
At-Tur ( The Mount )

53
An-Najm ( The Star )

54
Al-Qamar ( The Moon )

55
Ar-Rahman ( The Most Graciouse )

56
Al-Waqi'ah ( The Event )

57
Al-Hadid ( The Iron )

58
Al-Mujadilah ( She That Disputeth )

59
Al-Hasyr ( The Gathering )

60
Al-Mumtahanah ( The Woman to be examined )

61
As-Shoff ( The Row )

62
Al-Jumu'ah ( Friday )

63
Al-Munafiqun ( The Hypocrites )

64
At-Taghabun ( Mutual Loss & Gain )

65
At-Thalaq ( The Divorce )

66
At-Tahrim ( The Prohibition )

67
Al-Mulk ( Dominion )

68
Al-Qalam ( The Pen )

69
Al-Haaqqah ( The Inevitable )

70
Al-Ma'arij (The Ways of Ascent )

71
Nuh (Prophet Nuh a.s)

72
Al-Jin ( The Jin )

73
Al-Muzzammil (The One wrapped in Garments)

74
Al-Muddaththir ( The One Enveloped )

75
Al-Qiyamah ( The Resurrection )

76
Al-Insan ( Man )

77
Al-Mursalat ( Those sent forth )

78
An-Naba' ( The Great News )

79
An-Nazi'at ( Those who Pull Out )

80
Abasa ( He frowned )

81
At-Takwir ( The Overthrowing )

82
Al-Infitar ( The Cleaving )

83
Al-Mutaffifin (Those Who Deal in Fraud)

84
Al-Inshiqaq (The Splitting Asunder)

85
Al-Buruj ( The Big Stars )

86
At-Thoriq ( The Night-Comer )

87
Al-A'la ( The Most High )

88
Al-Ghashiya ( The Overwhelming )

89
Al-Fajr ( The Dawn )

90
Al-Balad ( The City )

91
Ash-Syams ( The Sun )

92
Al-Lail ( The Night )

93
Ad-Dhuha ( The Forenoon )

94
Asy-Syarh ( The Opening Forth)

95
At-Tin ( The Fig )

96
Al-'Alaq ( The Clot )

97
Al-Qadr ( The Night of Decree )

98
Al-Bayyinah ( The Clear Evidence )

99
Az-Zalzalah ( The Earthquake )

100
Al-'Adiyat ( Those That Run )

101
Al-Qari'ah ( The Striking Hour )

102
At-Takathur ( The piling Up )

103
Al-Asr ( The Time )

104
Al-Humazah ( The Slanderer )

105
Al-Fil ( The Elephant )

106
Quraish (The tribe of Quraish)

107
Al-Ma'un ( Small Kindnesses )

108
Al-Kauthar ( A River in Paradise)

109
Al-Kafirun ( The Disbelievers )

110
An-Nasr ( The Help )

111
Al-Masad ( The Palm Fibre )

112
Al-Ikhlas ( Sincerity )

113
Al-Falaq ( The Daybreak )

114
An-Nas ( Mankind )
»»  READMORE...
0 komentar more...

MEMULIAKAN KEDUA ORANG TUA ( ADAB BIRRUL WALIDAIN )

by Tentang blog on Nov.22, 2009, under



Oleh : Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as Sayyid Nada

Kedua orang tua adalah manusia yang paling berjasa dan utama bagi diri seseorang. Allah ta’ala telah memerintahkan dalam berbagai tempat di dalam al Qur’an agar berbakti kepada kedua orang tua. Allah menyebutkan berbarengan dengan pentauhidan-Nya dan memerintahkan para hamba-Nya untuk melaksanakan sebagaimana akan disebutkan sebagai berikut. Hak kedua orang tua merupakan hak terbesar yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim. Disini akan dicantumkan beberapa adab yang berkaitan dengan masalah ini. Antara lain hak yang wajib dilakukan semasa kedua orang tua hidup dan setelah meninggal. Dengan pertolongan Allah saya sebutkan beberapa adab tersebut antara lain :

Bagian I

Hak-Hak Yang Wajib Dilaksanakan Semasa Orang Tua Masih Hidup

Diantara hak orang tua ketika masih hidup adalah:

1. Mentaati Mereka Selama Tidak Mendurhakai Allah

Mentaati kedua orang tua hukumnya wajib atas setiap Muslim. Haram hukumnya mendurhakai keduanya. Tidak diperbolehkan sedikit pun mendurhakai mereka berdua kecuali apabila mereka menyuruh untuk menyekutukan Allah atau mendurhakai-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…” [QS.Lukman: 15]

Tidak boleh mentaati makhluk untuk mendurhakai Allah, Penciptanya, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Tidak ada ketaatan untuk mendurhakai Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam melakukan kebaikan.” [1]

Adapun jika bukan dalam perkara yang mendurhakai Allah, wajib mentaati kedua orang tua selamanya dan ini termasuk perkara yang paling diwajibkan. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh mendurhakai apa saja yang diperintahkan oleh kedua orang tua.

2. Berbakti dan Merendahkan Diri Dihadapan Kedua Orang Tua

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):

“Kami perintahkan kepada manusia suapaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya..” [QS.Al Ahqaf: 15]

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak..” [QS.An Nisaa’:36]

Perintah berbuat baik ini lebih ditegaskan jika usia kedua orang tua semakin tua dan lanjut hingga kondisi mereka melemah dan sangat membutuhkan bantuan dan perhatian dari anaknya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat bik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih saying dan ucapkanlah: “Wahai, Rabbku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” [QS.Al Israa’: 23-24]

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sungguh merugi, sungguh merugi, dan sungguh merugi orang yang mendapatkan kedua orang tuanya yang sudah renta atau salah seorang dari mereka kemudian hal itu tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga.” [2]

Di antara bakti terhadap kedua orang tua adalah menjauhkan ucapan dan perbuatan yang dapat menyakiti kedua orang tua, walaupun dengan isyarat atau dengan ucapan ‘ah’. Termasuk berbakti kepada keduanya ialah senantiasa membuat mereka ridha dengan melakukan apa yang mereka inginkan, selama hal itu tidak mendurhakai Allah ta’ala, sebagaimana yang telah disebutkan.

3. Merendahkan Diri Dihadapan Mereka

Tidak boleh mengeraskan suara melebihi suara kedua orang tua atau di hadapan mereka berdua. Tidak boleh juga berjalan di depan mereka, masuk dan keluar mendahului mereka, atau mendahului urusan mereka berdua. Rendahkanlah diri di hadapan mereka berdua dengan cara mendahulukan segala urusan mereka, membentangkan dipan untuk mereka, mempersilahkan mereka duduk ditempat yang empuk, menyodorkan bantal, jangan mendahului makan dan minum, dan lain sebagainya.

4. Berbicara Dengan Lembut Dihadapan Mereka

Berbicara dengan lembut merupakan kesempurnaan bakti kepada kedua orang tua dan merendahkan diri di hadapan mereka, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya):

“…Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” [QS.Al Israa’: 23]

Oleh karena itu, berbicaralah kepada mereka berdua dengan ucapan yang lemah lembut dan baik serta dengan lafazh yang bagus.

5. Menyediakan Makanan Untuk Mereka

Menyediakan makanan juga termasuk bakti kepada kedua orang tua, terutama jika ia memberi mereka makan dari hasil jerih payah sendiri. Jadi, sepantasnya disediakan untuk mereka makanan dan minuman terbaik dan lebih mendahulukan mereka berdua daripada dirinya, anaknya, dan istrinya.

6. Meminta Izin Kepada Mereka Sebelum Berjihad dan Pergi Untuk Urusan Lainnya

Izin kepada orang tua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan. Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya: “Ya Rasulullah, apakah aku boleh ikut berjihad?” Beliau balik bertanya: “Apakah kamu masih mempunyai kedua orang tua?” Laki-laki itu menjawab: “Masih.” Beliau bersabda: “Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya.” [3]

Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Aku datang membai’atmu untuk hijrah dan aku tinggalkan kedua orang tuaku menangisi (kepergianku).”

Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Pulanglah dan buatlah mereka tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka menangis.” [4]

Seorang laki-laki hijrah dari negeri Yaman lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Apakah kamu masih mempunyai kerabat di Yaman?” Laki-laki itu menjawab: “Masih, yaitu kedua orang tuaku.” Beliau kembali bertanya: “Apakah mereka berdua mengizinkanmu?” laki-laki itu menjawab: “Tidak.” Lantas Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kembalilah kamu kepada mereka dan mintalah izin dari mereka. Jika mereka mengizinkan, maka kamu boleh ikut berjihad, namun jika tidak, maka berbaktilah kepada keduanya.” [5]

Seorang laki-laki berkata kepada beliau: “Aku membai’at Anda untuk berhijrah dan berjihad semata-mata hanya mengharapkan pahala dari Allah ta’ala. Beliau bersabda kepada laki-laki tersebut: “Apakah salah satu kedua orangtuamu masih hidup?” laki-laki itu menjawab: “Masih, bahkan keduanya masih hidup.” Beliau kembali bersabda: “Apakah kamu ingin mendapatkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala?” Lelaki itu menjawab: “Ya”. Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kembalilah kamu kepada kedua orang tuamu dan berbaktilah kepada keduanya.” [6]

7. Memberikan Harta Kepada Orang Tua Menurut Jumlah yang Mereka Inginkan

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketik ia berkata: “Ayahku ingin mengambil hartaku.”

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu dan hartamu milik ayahmu.” [7]

Oleh sebab itu, hendaknya seseorang jangan bersikap bakhil (kikir) terhadap orang yang menyebabkan keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil dan lemah, serta telah berbuat baik kepadanya.

8. Membuat Keduanya Ridha Dengan Berbuat Baik Kepada Orang-orang yang Dicintai Mereka

Hendaknya seseorang membuat kedua orang tua ridha dengan berbuat baik kepada para saudara, karib sahabat, teman-teman, dan selain mereka. Yakni, dengan memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim dengan mereka, menunaikan janji-janji (orang tua) kepada mereka. Akan disebutkan nanti beberapa hadits yang berkaitan dengan masalah ini.

9. Memenuhi Sumpah Kedua Orang Tua

Apabila kedua orang tua bersumpah kepada anaknya untuk suatu perkara tertentu yang didalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk memenuhi sumpah keduanya karena itu termasuk hak mereka.

10. Tidak Mencela Orang Tua Atau Tidak Menyebabkan Mereka Dicela Orang Lain

Mencela orang tua dan menyebabkan mereka dicela orang lain termasuk salah satu dosa besar.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela orang tuanya.” Para Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apa ada orang yang mencela orang tuanya?” Beliau menjawab: “Ada. Ia mencela ayah orang lain kemudian orang itu membalas mencela orang tuanya. Ia mencela ibu orang lain lalu orang itu membalas mencela ibunya.” [8]

Perbuatan ini merupakan perbuatan dosa yang paling buruk.

Orang-orang sering bergurau dan bercanda dengan melakukan yang sangat tercela ini. Biasanya perbuatan ini muncul dari orang-orang rendahan dan hina. Perbuatan seperti ini termasuk dosa besar sebagaimana yang telah disebutkan.

11. Mendahulukan Berbakti Kepada Ibu Daripada Ayah

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Laki-laki itu bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?” Beliau kembali menjawab: “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya: “Kemudian siapa lagi? Beliau menjawab: “Ibumu.” “Lalu siapa lagi?” tanyanya. “Ayahmu.” Jawab beliau. [9]

Hadits diatas tidak bermaksud lebih mentaati ibu daripada ayah. Sebab, mentaati ayah lebih di dahulukan jika keduanya menyuruh pada waktu yang sama dan dibolehkan dalam syariat. Alasannya, ibu sendiri diwajibkan untuk taat kepada suaminya, yaitu ayah anaknya. Hanya saja, jika salah seorang mereka menyuruh berbuat taat dan yang lain menyuruh berbuat maksiat, maka wajib untuk mentaati yang pertama.

Maksud lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibu yaitu lebih bersikap lemah lembut, lebih berprilaku baik dan memberikan sikap yang lebih halus daripada ayah. Hal ini apabila keduanya berada di atas kebenaran.

Sebagian Salaf berkata: “Hak ayah lebih besar dan hak ibu patut untuk dipenuhi.”

Demikianlah penjelasan umum hak-hak orang tua semasa mereka masih hidup.

Bagian II

Hak-Hak Orang Tua Setelah Mereka Meninggal Dunia

Diantara hak orang tua setelah mereka meninggal adalah:

1. Menshalati Keduanya

Maksud menshalati disini adalah mendoakan keduanya. Yakni, setelah mereka meninggal dunia, karena ini termasuk bakti kepada mereka. Oleh karena itu, seorang anak hendaknya lebih sering mendoakan kedua orang tuanya setelah mereka meninggal daripada ketika masih hidup. Apabila anak itu mendoakan keduanya, niscaya mereka berdua akan semakin bertambah, berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila manusia sudah meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan dirinya.” [10]

2. Beristighfar Untuk Mereka Berdua

Orang tua adalah yang paling utama bagi seorang Muslim untuk didoakan agar Allah mengampuni mereka karena kebaikan mereka yang besar.

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam al Qur’an (yang artinya): “Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku…” [QS.Ibrahim: 41]

3. Menunaikan Janji Kedua Orang Tua

Hendaknya seseorang menunaikan wasiat orang tua dan melanjutkan secara berkesinambungan amalan-amalan kebaikan yang dahulu pernah dilakukan keduanya. Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amalan kebaikan yang dulu pernah dilakukan dilanjutkan oleh anak mereka.

4. Memuliakan Teman Kedua Orang Tua

Memuliakan teman kedua orang tua juga termasuk berbuat baik kepada orang tua, sebagaimana yang telah disebutkan. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berpapasan dengan seorang Arab badui di jalan menuju Mekkah. Kemudian Ibnu ‘Umar mengucapkan salam kepadanya dan mempersilahkan naik ke atas keledai yang ia tunggangi. Selanjutnya, ia juga memberikan sorbannya yang ia pakai. Ibnu Dinar berkata: “Semoga Allah memuliakanmu. Mereka itu orang Arab badui dan mereka sudah terbiasa berjalan.” Ibnu ‘Umar berkata: “Sungguh, dulu ayahnya teman ‘Umar bin al Khaththab dan aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya bakti anak yang terbaik adalah seorang anak yang menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya tersebut meninggal.” [11]

5. Menyambung Tali Silaturrahim Dengan Kerabat Ibu dan Ayah

Hendaknya seseorang menyambung tali silaturrahim dengan semua kerabat yang silsilah keturunannya bersambung dengan ayah dan ibu, seperti paman dari pihak ayah dan ibu, bibi dari pihak ayah dan ibu, kakek, nenek, dan anak mereka semua. Bagi yang melakukannya, berarti ia telah menyambung tali silturrahim kedua orang tuanya dan telah berbakti kepada mereka. Hal ini berdasarkan hadits yang telah disebutkan dan sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa ingin menyambung tali silaturrahim ayahnya yang ada dikuburannya, maka sambunglah tali silaturrahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal.” [12]

Demikianlah akhir dari adab berbakti kepada orang tua yang telah dimudahkan Allah kepadaku untuk menuliskannya, yang seluruhnya berjumlah enam belas adab. Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin [13]

Note :

[1] HR.Bukhari (4340, 7145, 7257) dan Muslim (1840) dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu

[2] HR.Muslim (2551) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

[3] HR.Al Bukhari (3004,5972) dan Muslim (2549) dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu

[4] HR.Abu Dawud (2528), an Nasa’I (VII/1430, Ibnu Majah (2782), dari Ibnu ‘Amr. Lihat kitab Shahiih Abi Dawud (2205)

[5] HR.Ahmad (III/76), Abu Dawud (2530), al Hakim (II/103, 103) dan ia menshahihkannya serta disetujui oleh adz Dzahabi dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu. Lihat kitab Shahiih Abi Dawud (2207).

[6] HR.Muslim (2549) dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu

[7] HR.Ahmad (II/204), Abu Dawud (3530), dan Ibnu Majah (2292) dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami’ (1486)

[8] HR.Al Bukhari (5973) dan Muslim (90) dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.

[9] HR.Al Bukhari (5971) dan Muslim (2548) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

[10] HR. Muslim (1631) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

[11] HR. Muslim (2552) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

[12] HR.Ibnu Hibban (433) dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami’ (5990)

[13] Referensi tambahan : Shahiih Muslim (IV/1974) dan halaman setelahnya, Fa-thul Baari (X/414) dan halaman setelahnya. Al Ihsaan bi Tartiibi Ibni Hibban (I/315) dan halaman setelahnya, al Aadaab karya al Baihaqi (hal.5) dan halaman setelahnya, al Aadaab asy Syar’iyyah karya Ibnu Muflih (I/433) dan halaman setelahnya, Ihya ‘Uluumuddin karya al Ghazali (II/216) dan halaman setelahnya, Birrul Waalidain karya ath Thurthusi, dan lain-lain.

Sumber:

Diketik ulang dari buku “Ensiklopedi Adab Islam Menurut al Qur’an dan as Sunnah – Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as Sayyid Nada”, Pustaka Imam asy Syafi’I Hal.171-179.
ALQIYAMAH.WORDPRESS.COM
JIKA ADA KESALAHAN MOHON DI


KOREKSIJAUHKAN PERDEBATAN, REKATKAN UKUWAH ISLAMIYAH.
»»  READMORE...
1 komentar more...

Mau di bawa kemana generasi kita

by Tentang blog on Nov.22, 2009, under ,



Mau di bawa kemana generasi kita????

Kejayaan islam di dunia ini perlahan sirna, masihkah anda diam. Ataukah menunggu melihat anak-cucu anda tidak lagi mengenal Rasulullah SAW.

Kata – kata saya diatas bukanlah omong kosong, dan mungkin saja terjadi jika dakwah tidak lagi di tegakkan. Sekarang kita lihat anak – anak sekarang lebih mengenal tokoh – tokoh super hero atau karakter film kartun. Siapa yang tidak mengenal Naruto seorang ninja dari desa konoha, atau spiderman si peter parker yang di gigit laba- laba dan menjadi manusia super. Anak –anak kita lebih familiar dengan nama – nama tadi ketimbang nama - nama nabi dan rasul atau sahabat dekat Rasulullah SAW.

Mungkin kalo di Tanya tentang 25 nabi dan rasul mereka masih bisa menjawab, karena hal ini masuk dalam kurikulum Agama Islam yang di ajarkan @2jam/ minggu. Atau mungkin kita bisa bersyukur jika anak – anak kita masih mengenal Khulafaur Rasyidin, tapi jika di tanya siapa itu Khabab ra, Hudzaifah ra, Ikrimah ra, Asma rha mereka bisa jadi asing. TANYA KENAPA…….?????

Karena di dalam keluarga tidak lagi di agungkan atau di ulang – ulangnya nama para sahabat tadi, atau mungkin malu???

Kita lebih suka menceritakan kepada anak kita dongeng – dongeng yang ga jelas macam Cinderela, 7 kurcaci, dll. Tapi di dalam hati kecil anda, anda ingin suatu saat nanti anak anda menjadi anak yang sholeh/sholehah….. harusnya dari sekarang anda tanamkan sifat – sifat sahabat nabi di masa ke emasan Islam. Baru boleh anda berharap anak anda kelak akan menolong anda di hari kiamat.

Kita asyik masyuk terlena dalam gegap gempita dunia, dengan alas an mencari nafkah, tapi akankah kita abaikan pendidikan ahlaq bagi anak kita???

Jangan berharap pada system pendidikan kita yang payah, kok payah, kenapa????

Ingin Negara ini bersih dari KKN, tapi ahlaq generasi muda di abaikan. Buktinya pelajaran moral dan Ahlaq yang sangat penting hanya di kasih jatah 2 jam pelajaran / minggu. Sudah akan menjadi efek berantai atau lingkaran setan jika ahlaq generasi bangsa ini dan ahlaq generasi islam rusak karena system. Sampai kapankah kita diam???
System pemerintahan yang paling kecil adalah keluarga, mulailah dari situ dulu. Ajarkan ahlaq Rasulullah SAW dan para sahabatnya. DARI SEKARANG…..








JIKA ADA KESALAHAN MOHON DI KOREKSI


JAUHKAN PERDEBATAN, REKATKAN UKUWAH ISLAMIYAH.
»»  READMORE...
0 komentar more...

ADAB ISTINJA MERUJUK PADA SUNAH RASULULLAH SAW

by Tentang blog on Nov.22, 2009, under



Istinja adalah hal sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari baik itu buang air kecil (BAK) ataupun buang air besar (BAB). Akan tetapi umat islam sendiri telah banyak meninggalkan adab-adab yang telah di contohkan oleh Rasulullah SAW. Padahal Islam telah mengatur semua hal termasuk istinja ini.
Pernah kaum musyrikin berkata kepada Salman Al Farisi radhiallahu 'anhu: “Nabi kalian telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai pun perkara adab buang hajat”. Salman menjawab: “Ya, beliau mengajarkan kami adab buang hajat”. (HR. Muslim no. 262)
Perihal istinja ini sangatlah penting karena menyangkut semua amal ibadah yang di lakukan setelahnya, sebagai gambaran.
Apakah sah apabila kita sholat tanpa wudhu???
Lalu apakah sah wudhu kita bila istinja kita tidak bersih???
Berdoa sebelum membuang hajat
Bismillah, Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaits (Bismillah, Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan lelaki dan setan wanita).”
Dari Ali -radhiallahu anhu- secara marfu’, “Penghalang antara jin dengan aurat anak Adam -ketika dia masuk ke dalam wc- adalah dengan membaca ‘bismillah’.” (HR. Ibnu Majah) Adapun doa “Allahumma inni …,” sampai akhir maka dari hadits Anas riwayat Al-Bukhari dan Muslim.

Kalau seseorang membuang air di selain bangunan (misalnya di hutan atau padang pasir), maka doa ini dibaca ketika awal kali dia membuka auratnya. Lihat Subulus Salam: 1/289 dan Manarus Sabil: 1/38-39
Sementara apabila di padang pasir (tempat yang terbuka), maka doa ini dibaca tatkala hendak ditunaikannya hajat seperti ketika seseorang menyingkap pakaiannya. Hal ini merupakan pendapat jumhur ulama dan mereka mengatakan kalau seseorang lupa membaca doa ini maka ia membacanya dalam hati. (Fathul Bari, 1/307)
Langkah Kaki Ketika Masuk dan Keluar WC
Telah diketahui bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyenangi mendahulukan bagian yang kanan dalam seluruh keadaan beliau. (HR. Al Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268).

Hadits di atas menunjukkan keumuman, namun khusus pada keadaan-keadaan tertentu dimulai dengan yang kiri, seperti apabila beliau masuk WC, keluar dari masjid dan yang semisalnya. Demikian dinyatakan Ibnu Daqiqil ‘Ied. (Syarah ‘Umdatil Ahkam,
Buang hajat dalam keadaan jongkok
Rasulullah SAW pernah melewati dua kuburan, maka beliau mengabarkan:
“Dua penghuni kuburan ini sedang diadzab. Tidaklah mereka diadzab karena perkara yang besar. Kemudian Rasulullah mengatakan: Bahkan ya. Adapun salah satunya, ia diadzab karena tidak berhati-hati/ tidak menjaga dirinya dari kencing…”. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 216 dan Muslim no. 292, dengan lafadz Al-Bukhari)

Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah mengatakan hal yang bersangkutan dengan hadist ini : “Kedua penghuni kuburan itu tidaklah diadzab karena perkara yang sulit untuk menghilangkannya atau untuk mencegahnya serta berhati-hati darinya. Yakni perkara itu sebenarnya mudah, gampang bagi orang yang menjaga diri darinya.” Beliau juga berkata: “Dua perkara ini termasuk dosa besar.” (Syarah ‘Umdatil Ahkam, 1/62)
Hal ini di mungkinkan karena kurang berhati-hati dalam ber istinja sehingga kita membawa najis itu, bahkan dalam ibadah kita. Sebagai contoh jika kita tengah menunaikan hajat kecil (BAK) tanpa di sadari air seni kita menciprat kekai dan pakaian kita. Untuk menghindari itu para ulama berpendapat bahwa BAK dilakukan dengan cara berjongkok.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan dengan merenggangkan/menjauhkan kedua kaki ketika duduk untuk buang hajat guna menghindari percikan air kencing. Al-Hasan berkata: “Telah menceritakan kepadaku orang yang melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau kencing dalam keadaan jongkok dengan merenggangkan kedua kaki beliau selebar-lebarnya sehingga kami menduga pangkal paha beliau akan terlepas.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, 1/121 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami`ush Shahih, 1/500)
Dari Aisyah ra. berkata, “Siapa saja yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW kencing berdiri, maka jangan dibenarkan. Beliau tidak pernah kencing sambil berdiri.” (HR Khamsah kecuali Abu Daud dengan sanad yang shahih)
hal lain yang di contohkan oleh Rasulullah adalah
Tidak Berbicara
Tidaklah pantas seseorang ketika membuang hajatnya berbicar kecuali dalam keadaan terpaksa. Termasuk pembicaraan yang dilarang di sini adalah menjawab salam dan ucapan dzikir lainnya. Berkata Al-Baghawi rahimahullah dalam Syarhus Sunnah: “Bila seseorang bersin dalam keadaan ia sedang buang hajat maka ia mengucapkan tahmid (Alhamdulillah) di dalam hati”. Demikian pula yang dikatakan oleh Al-Hasan, Asy-Sya`bi, An-Nakha`i dan Ibnul Mubarak. Larangan berdzikir di sini merupakan larangan makruh dengan kesepakatan yang ada. Ibnul Mundzir menghikayatkan makruhnya hal ini dari Ibnu Abbas, ‘Atha, Ikrimah, An-Nakha`i dan Ibnu Sirin. Ibnul Mundzir juga mengatakan: “Meninggalkan dzikir ketika buang hajat lebih aku sukai namun aku tidak menganggap berdosa orang yang melakukannya.” (Al-Majmu’, 2/108, Al-Furu’, 1/84)
Larangan Istinja’ dengan Tangan Kanan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kita untuk menyentuh kemaluan dengan tangan kanan ketika kencing dan ketika istinja’ (cebok), sebagaimana sabdanya:
“Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanannya ketika sedang kencing dan jangan pula cebok dengannya setelah buang hajat”. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 154 dan Muslim no. 267)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Larangan istinja’ dengan tangan kanan termasuk salah satu adab dalam istinja’. Dan ulama sepakat dilarangnya perkara ini. Jumhur ulama berpendapat larangan di sini menunjukkan makruhnya bukan haram”. Kemudian beliau berkata: “Memegang kemaluan dengan tangan kanan hukumnya makruh”. (Syarah Shahih Muslim, 3/156, 159)
Larangan Bersuci dengan Tulang dan Kotoran Hewan yang telah Mengering/Membatu (Rautsah)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah meminta kepada Abu Hurairah radiallahuanhu untuk mencari batu guna keperluan bersuci beliau dan beliau bersabda:
“Jangan engkau datangkan untukku tulang dan jangan pula rautsah.” (Shahih, HR. Al- Bukhari no. 155)

Di waktu yang lain Abdullah bin Mas‘ud radiallahuanhu pernah diminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar mencari tiga batu untuk bersuci namun ia hanya mendapatkan dua batu hingga ia mengambil rautsah lalu diserahkannya kepada Nabi. Maka beliau mengambil dua batu tersebut dan membuang rautsah, seraya berkata: “Ini adalah kotoran”. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 156)

Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah: “Tidak boleh bersuci dengan menggunakan rauts ataupun tulang. Dan bersuci dengan keduanya tidaklah mencukupi, demikian pendapat mayoritas ahli ilmu dan hal ini merupakan pendapatnya Ats-Tsauri, Asy- Syafi’i dan Ishaq.” (Al-Mughni, 1/104)

Doa Keluar dari Tempat Buang Hajat

“Aku memohon pengampunan-Mu” (HR. At-Tirmidzi no. 8, Abu Dawud no. 28, Ibnu Majah no. 296 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 52)

Doa di atas diucapkan ketika seseorang keluar dari tempat buang hajat. Kecocokan doa ini dengan keadaan tersebut adalah setelah seseorang diringankan dan dilindungi dari gangguan fisik, dia akan teringat gangguan berupa dosa maka dia meminta kepada Allah agar meringankan dosanya dan mengampuninya sebagaimana Allah telah menganugerahkan perlindungan kepadanya dari gangguan fisik. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/84).

Di samping itu, kekuatan manusia itu amatlah terbatas untuk mensyukuri nikmat yang dicurahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala berupa makanan, minuman dan pengaturan zat makanan di dalam tubuh sesuai dengan kepentingannya sampai akhirnya dikeluarkan sisanya dari tubuh. Oleh karena itu, sepantasnya seorang hamba memohon ampun kepada Allah sebagai pengakuan akan kekurangan tersebut dari apa yang sepatutnya. (Tuhfatul Ahwadzi, 1/42)

Tempat Terlarang untuk Buang Hajat
Air yang tidak mengalir

“Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian kencing di air yang diam yang tidak mengalir”. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 239 dan Muslim no. 282)

Yang rajih dari larangan di sini adalah menunjukkan keharamannya. Sama saja air yang tidak mengalir itu banyak ataupun sedikit, kencing ataupun buang air besar karena buang air besar ini lebih jelek daripada kencing. Dan juga perkara yang terlarang dalam permasalahan ini apabila seseorang kencing di dalam bejana kemudian dia buang air kencing tersebut ke air yang tidak mengalir tersebut. Sementara itu, tidaklah terlarang membuang hajat pada air yang mengalir, namun lebih baik dijauhi, terlebih lagi bila air yang mengalir itu sedikit. (Syarah Shahih Muslim, 3/187-188, Subulus Salam, 1/34-35)

Lubang
“Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian kencing di lubang (yang biasa digali oleh binatang sebagai tempat persembunyiannya)”. (HR. Ahmad no. 19847 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih, 1/499)

Qatadah rahimahullah, salah seorang rawi hadits ini, ditanya oleh murid-muridnya tentang alasan pelarangan di atas. Qatadah pun menjawab: “Lubang-lubang itu adalah tempat tinggalnya jin”1. (Al Jami`ush Shahih, 1/499)

Jalan yang dilewati manusia dan tempat mereka bernaung
“Berhati-hatilah kalian dari dua hal yang dilaknat (oleh manusia)”. Para shahabat bertanya: “Apa yang dimaksud dengan dua orang yang dilaknat?”. Beliau menjawab: “Orang yang buang hajat di jalan yang biasa dilalui manusia2 atau di tempat yang biasa mereka bernaung”. (Shahih, HR. Muslim no. 269)

Al-Khaththabi rahimahullah dan selainnya dari kalangan ulama berkata: “Yang dimaukan dengan tempat naungan adalah tempat yang dijadikan oleh manusia untuk bernaung, mereka singgah dan duduk di situ”. (Syarah Shahih Muslim, 3/163)

Buang hajat di tempat demikian dilarang karena hal itu mengganggu kaum muslimin dengan menajisi dan mengotori tempat lalu lalang mereka. (Syarah Shahih Muslim, 3/163). Sementara memberikan gangguan kepada kaum muslimin itu diharamkan. (Ad-Darari, 24, Asy-Syarhul Mumti‘, 1/102)

Ada lagi tempat-tempat terlarang yang lainnya untuk buang hajat seperti di mata air atau sungai yang digunakan oleh manusia untuk air minum dan wudhu, di bawah pohon yang sedang berbuah walaupun tidak digunakan untuk bernaung, dan di sisi sungai yang mengalir, serta di pintu-pintu masjid. Namun hadits yang menyebutkan tempat-tempat tersebut semuanya lemah, hanya saja yang menjadi patokan kita adalah tidak boleh memberikan gangguan kepada manusia sehingga kita harus menghindar dari buang hajat di tempat-tempat mana saja yang biasa dimanfaatkan oleh mereka. (Bulughul Maram, 41, Subulus Salam, 1/117, Al-Furu’, 1/86)

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.
Sumber :
al-atsariyyah.com
asysyariah.com
dengan beberapa perubahan

JIKA ADA KESALAHAN MOHON DI KOREKSI


JAUHKAN PERDEBATAN, REKATKAN UKUWAH ISLAMIYAH.
»»  READMORE...
0 komentar more...
Diberdayakan oleh Blogger.

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!